Jokowi dan JK saat kampanye Pilkada DKI 2012

Jusuf Kalla Selalu Memandang Rendah Jokowi

By: Budi Santoso

Nafsu Jusuf Kalla untuk menjadi presiden memang sudah diubun-ubun. Berbagai upaya, baik yang halal dan haram dilakukan politisi asal Makassar itu, sejak dulu hingga kini, untuk menjadi orang nomor satu di Indonesia.

Ingat pada jaman Susilo Bambang Yudhoyono memerintah Indonesia, JK selalu over laping dengan membuat statement pasca Jumatan. Fenomena itu membuat SBY gusar karena JK banyak memposisikan diri sebagai presiden ketimbnang wakil presiden.

Ingat perkataan Buya Safi’i Ma’arif tahun 2008 ketika Jusuf Kalla (JK) menjadi wakil presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Buya berkata “JK the real presiden.“ Buya tentu tidak sembarangan bicara. Buya melihat bahwa JK teramat sering memposisikan diri sebagai presiden daripada sebagai wakil presiden.

Saat itu, JK memang tampak lebih berani dalam mengambil keputusan, seperti dalam kebijakan tentang perdamaian di Aceh, menaikkan harga BBM, dan mengganti minyak tanah dengan LPG 3 kg. Bukan hanya berani, kadang komentar JK juga kerap berbeda dengan Presiden SBY.

Sebelum Buya mengatakan hal tersebut, sebenarnya sebagian masyarakat sudah merasakannya. Itulah sebabnya, Salim Said dalam bukunya “Dari Gestapu Ke Reformasi,” menceritakan bagaimana dia berusaha untuk melobi JK agar mau lebih bersikap sebagai wakil presiden.

Kebiasan buruk Jusuf Kalla selaku Wapres yang selalu ingin tampil ala Presiden itu selalu dibawa saat menjadi wakil Jokowi. Maklum JK dulu harus setor banyak ke tim kampanye Jokowi dan PDIP. Menurut su=ebuah sumber, ia harus setor hingga 1,5 triliun rupiah agar Megawati merestuinya menjadi cawapres Jokowi. Padahal Jokowi sendiri sebenarnya sudah merasa nyaman jika Hatta Rajasa menjadi pendampingnya.

Jokowi sendiri sebenarnya sudah sakit hati dengan JK karena pernah menyebut tak pantas menjadi Presiden RI  dalam sebuah wawancara dengan televisi.

Namun JK akhirnya menjilat ludahnya sendiri. Ia mau saja menjadi wakil Jokowi yang sempat dianggapnya politisi kemarin sore.

ASkan tetapi setelah terpilih, penyakit lama JK kambuh lagi. Ia menujukkan sikap yang selalu berbeda pandangan dan pendapat dengan Jokowi, meski sudah dibatasi oleh tim kepresidenan..

Ia sering kali menuding secara sembunyi-sembunyi jika rezim Jokowi tak kompeten dan membuat ekonomi-politik  makin terpuruk, banyak rencana tidak matang..

Berapa kali terbukti di lapangan ucapan Wapres JK berbeda dengan Presiden Jokowi. Seperti, ketika Jokowi meminta kasus kriminalisasi terhadap pimpinan KPK dan penggiat antikorupsi dihentikan, JK justru mendukung agar kasus tersebut diteruskan.

Kebiasaan offside berkometar JK kali ini juga dirasakan oleh Bank Indonesia (BI). Kekuasaan BI dalam mengambil kebijakan moneter dengan nyata diintervensi oleh JK melalui pernyataan bahwa suku bunga akan diturunkan secara bertahap.

Pernyataan tersebut dilontarkan sesudah rapat antara pemerintah dan BI hari Rabu (6/5). Padahal indenpendensi BI dilindungi oleh undang- undang. BI akan mengadakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) tanggal 19 Mei 2015. Kalau hasil RDG nanti memutuskan untuk menurunkan suku bunga, kemungkinan mata uang rupiah akan terpuruk.

Ketika RDG BI bulan Februari, BI memutuskan untuk menurunkan suku bunga. Isu bahwa ada campur tangan pemerintah atas keputusan tersebut merebak. Bahkan, salah satu perusahaan efek asing ternama sampai memberitahukan isu tersebut. Akibatnya, rupiah tergerus sampai lebih dari 3% terhadap dolar AS. Bahkan, sampai melewati angka psikologis di level Rp 13.000.

Menyadari hal tersebut, sejak RDG bulan Maret, BI tidak lagi berani untuk menurunkan suku bunga. Dampaknya, pelan-pelan rupiah kembali menguat. Bahkan, cukup lama bertahan di bawah level psikologisnya.

Jusuf Kalla, pernah memandang remeh Jokowi meski akhirnya menjilat sendiri ludahnya.

Jusuf Kalla, pernah memandang remeh Jokowi meski akhirnya menjilat sendiri ludahnya.

Untuk jangka pendek, suku bunga tinggi merupakan salah satu instrumen untuk penahan pelemahan rupiah. Sebab, dengan suku bunga tinggi kita berharap dana asing di pasar uang tidak lari. Instrumen tersebut memang menghambat pertumbuhan ekonomi.

Tapi mau bagaimana lagi. Ini semua karena kita masih mengalami defisit neraca pembayaran sejak harga-harga komoditas andalan ekspor Indonesia terpuruk. Sedang bahan baku untuk industri kita 64% berasal dari impor.

JK harusnya sadar bahwa pernyataannya tersebut memberikan signal buruk kepada pasar uang dan modal. Bisa dibayangkan nasib rupiah apabila asing semakin masif keluar dari pasar modal. Sekarang saja dolar AS berdasarkan kurs tengah BI sudah berada di Rp 13.065, entah bagaimana nasibnya esok hari.

Langkah itu adalah upaya JK dalam menggembosi Jokowi secara langsung. Maklum jika kondisi ekonomi makin merosot, kemudian disusul masalah sosial dan politik lainnya, maka JK berpeluang untuk melengserkan Jokowi di tengah jalan dan tampil ke permukaan sebagai Presiden.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kategori

Arsip Berita

Newsletter

Sumber berita yang hangat dan terpercaya bagi siapa saja yang menyukai teori konspirasi.

Jl. Asia Afrika no. 1 Jakarta

021 7777 8899

jusufkurdi@gmail.com

Kalender

April 2017
M T W T F S S
     
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
Back to Top